Minggu, 23 Oktober 2016

AKSI MAHSISWA



Mendengar kata Demonstrasi kita akan terbayang pada demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa. Sering kita lihat Aksi yang dilakukan para mahasiswa baik di daerah maupun di ibukota. Mahasiswa memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Hal itu lah yang mendorong mereka melakukan aksi untuk membela rakyat. Kenaikan BBM, harga sembako dll mereka akan langsung merasakan apa yang dirasakan rakyat dan berusaha menyadarkan pemerintah akan penderitaan rakyat.
Aksi dapat dibilang sebagai pernyataan sikap, penyuaraan pendapat, opini dengan jumlah masa tertentu dan teknik tertentu agar mendapat perhatian dari pihak yang dituju. Aksi tidak akan terjadi tanpa dasar pemikiran yang baik, dan pemikiran itu terjadi dari sebuah pengetahuan, pengetahuan dapat diperoleh dimana saja mulai dari membaca buku hingga membaca kondisi sekitar.
Aksi tidak sekonyong-konyong diadakan, perlu ada banyak hal yang harus dipersiapkan. Tema atau isu yang akan dibahas harus fokus tidak melebar kemanapun. Target harus tepat, baik target jumlah masa, media, dan pihak yang dituju. Masa, penggalangan masa dan pengendalian masa harus diperhatikan.
Di dalam aksi ada orang-orang yang terlibat dalam suksesnya sebuah aksi. Korlap, pemegang komando saat aksi sedang berjalan. Orator, orang yang menyampaikan orasi berdasarkan isu-isu yang telah disepakati. Agigator, pembangkit semangat dengan pekik teriakan di sela orasi. Negosiator, orang yang bernego dengan pihak-pihak yang dituju. Humas, bertanggung jawab dalam menjembatani aksi kepada para jurnalis. Dokumenter, mendokumentasikan aksi dari awal hingga selesai.
Aksi belum tentu membawa perubahan tetapi mendorong adanya perubahan.

MOCAS 3 SPB



Moving Class 3 Sekolah Penerus Bangsa dilakukan di Car Free Day Slamet Riyadi pada 9 Oktober 2016. Minggu pagi para siswa SPB sudah berkumpul di gerbang depan UNS, lalu mulai berangkat ke tempat acara. Titik kumpul di MAN 2 Solo, setelah foto bersama langsung mulai berpencar untuk berjualan. Kebanyakan menjual makanan ringan maupun minuman. Setelah berjualan berkumpul di Radya Pustaka dan melaporkan hasil jualan. Uang hasil jualan akan diberikan kepada pedagang yang telah disurvey pada Grand Opening hari kedua.

Jumat, 07 Oktober 2016

MAHASISWA ENTREPRENEUR



Salah satu yang menjadi masalah di Indonesia sekarang ini adalah pengangguran. Pengangguran menjadi salah satu problematika besar bangsa ini yang belum ditemukan akhir penyelesaiannya. Bukan hanya dari kalangan non terdidik, tapi lulusan-lulusan perguruan tinggi sudah sering terjadi di masyarakat.
Jumlah pengangguran dari perguruan tinggi tiap tahun terus mengalami peningkatan, baik lulusan diploma maupun sarjana. Disaat negara ingin mengurangi angka pengangguran, yang terjadi pengangguran terus bertambah tiap tahun.
Selama ini lulusan perguruan tinggi menjadi sorotan banyak orang. Mereka digadang-gadang akan menjadi generasi emas yang membangun bangsa. Memikul beban lebih berat dibanding dengan yang tidak kuliah. Di pundak mereka masa depan keluarga dipertaruhkan, orang tua rela mengeluarkan uang dalam jumlah besar, bahkan ratusan juta, untuk membiayai anaknya kuliah. Harapannya agar suatu hari anaknya menjadi seorang sarjana yang bisa mengangkat derajat serta memperbaiki ekonomi keluarga. Bagaimana nasib generasi muda sekarang ini jika banyak sarjana yang menganggur?
Melihat fenomena itu, kita yang saat ini masih menyandang status sebagai mahasiswa harus mulai berpikir. Mau kemana kita setelah lulus? Akan menjadi apa kita setelah lulus?
Kita harus memiliki visi misi jangka panjang. Mulai pikirkan 10 atau 15 tahun ke depan apa yang akan kita lakukan. Bekali diri dengan skill yang mumpuni, bukan hanya sekedar keinginan untuk lulus cumlaude. Kuliah di jurusan favorit, lulus cumlaude belum menjamin kita akan mendapat pekerjaan.
Menjadi sukses disaat masih menyandang status mahasiswa bukan hal yang tidak mungkin. Bahkan kita dapat menciptakan lapangan pekerjaan sehingga saat lulus kuliah tidak akan bingung mau kemana kita. Salah satunya adalah dengan memulai berbisnis. Dengan berbisnis kita dapat menghasilkan uang sendiri, bisa untuk tambahan uang saku maupun investasi di masa yang akan datang.
Selama ini mahasiswa lebih memilih menghabiskan waktu untuk jalan-jalan, nongkrong, mengerjakan tugas, organisasi, dan kos. Kuliah adalah waktu untuk bersenang –senang dan belum saatnya memikirkan masa depan. Sehingga tidak heran banyak yang masih bingung ketika ditanya setelah lulus mau kemana?
Jangan khawatir berbisnis menganggu kuliah. Bisnis sekelcil apapun bisa menjadi peluang untuk menjadi sukses. Apapun itu, sekecil apapun usahanya jalankan dengan maksimal. Bisa jadi bisnis kecil yang dirintis saat kuliah akan menjadi bekal ketika sudah lulus kuliah. Menjadi seorang pembisnis bisa dilakukan disela-sela kesibukan belajar dan tidak mengganggu aktifitas kuliah.
Menjadi seorang pembisnis dimulai dari mengenali diri sendiri. Evaluasi, instropeksi, memahami kapasitas diri dan melakukan analisis SWOT adalah awal yang kita harus lakukan. Ingat! Jangan pernah berpikir untuk mengatur orang lain sebelum mengatur diri sendiri. Selanjutnya tetapkan tujuan hidup dan tujuan karir. Buat tujuan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang apa yang akan dilakukan ke depannya.
Jangan pernah patah semangat ketika bisnis yang dijalani mengalami kegagalan. Analisis penyebab kegagalan dan jadikan pembelajaran untuk tetap berbisnis. Jadikan pelecut semangat untuk terus mengembangkan dan menjalankan bisnis.





Kamis, 29 September 2016

TEGAKKAN EKONOMI KERAKYATAN



Ekonomi kerakyatan sekarang ini mulai ditegakkan kembali. Mengingat perekonomian saat ini tidak lagi berpihak pada rakyat. Para kapitalis mulai menyebarkan jalannya. Dimana yang memiliki modal besar dialah yang akan berkuasa.
Ciri ekonomi kerakyatan dimana negara menguasai kebutuhan hidup masyarakat, pemerintah dan masyarakat saling mendukung, masyarakat merupakan bagian penting dalam perekonomian, dan berdasar asas kekeluargaan. Masihkah hal itu terjadi di negara kita?
Berbicara tentang ekonomi kerakyatan, sudah ada sejak awal tahun 1900-an dimana Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh Haji Samanhudi di Solo. Tujuan didirikannya organisasi ini adalah untuk mengumpulkan para pedagang pribumi sehingga bisa bersaing dengan produk China. SDI memiliki cabang hampir di seluruh Nusantara dan dengan hampir dua juta anggota pada tahun 1919. Hal ini menunjukkan bahwa SDI merangkul siapa saja tidak memandang SARA. Program-program yang dibuat SDI mengutamakan kepentingan rakyat bukan kepentingan golongan.
Tahun 1912 nama Sarekat Dagang Islam berubah menjadi Sarekat Islam yang diketuai Tjokroaminoto. Lingkup perjuangan SI tidak hanya sebatas perdagangan namun juga politik, akademik, kemanusiaan dll.
Mulai sekarang kita harus tegakkan lagi ekonomi kerakyatan. Lindungi rakyat, bukan membuat rakyat semakin sengsara dengan berbagai ancaman dari para kapitalis. Potensi yang dimiliki bangsa ini sungguh besar. Tugas kita sebagai generasi masa depan adalah membangun kembali bangsa ini, ciptakan lapangan pekerjaan jangan hanya mencari lapangan pekerjaan.
Haparannya perekonomian tidak lagi berkiblat pada prinsip kapitalisme, namun dapat berjalan dengan saling menguntungkan dan mendahulukan kepentingan rakyat daripada kepentingan individu ataupun golongan.

Jumat, 23 September 2016

LIHAT DIRIMU

Siapa kita hari ini? Siapa kita besok? Siapa kita satu tahun kemudian? Hal itu harus kita tekankan pada diri kita sendiri sejak awal. Lihat lebih dalam siapa diri kita, untuk apa kita hidup, bagaimana sosok kita.
Mengapa kita harus mengenali diri kita? Agar kita tahu apa yang harus kita lakukan. Kita boleh saja mempunyai sebuah mimpi yang besar, tapi apakah itu hanya mimpi semata? Tidak! Kita tidak butuh mimpi-mimpi besar, yang kita butuhkan adalah real action. Sekecil apapun itu, sesederhana apapun konteksnya, lakukan! Wujudkan mimpi kita, sebuah langkah kecil yang menjadi awal dari langkah besar kita.
Jika kita tidak bisa mengenali diri kita sendiri, apa yang dapat kita lakukan untuk orang lain? Setiap hal yang kita lakukan jangan pernah lupa pada kebermanfaatan. Tidak  hanya untuk diri sendiri, tetapi juga orang lain dan masyarakat. Jangan pernah takut untuk salah. Tak apa disalahkan asalkan kita mampu menjadi lebih baik.
Mahasiswa bukan lagi seorang murid yang diarahkan oleh gurunya tentang apa yang harus dilakukan. Seorang mahasiswa harus bisa menentukan apa yang harus dilakukan dengan pemikiran yang kritis. Kita bukan lagi anak kuliah yang kupu-kupu. Ada banyak hal yang tergantung di title kita sebagai mahasiswa. Jangan pernah berpikir tugas kita hanya belajar. Disini, apa yang kita lakukan sekarang akan mempunyai sebuah impact bagi bangsa ini. Tidak ada lagi kata manja dalam diri mahasiswa, karena kita adalah agent of change. Kita yang membuat perubahan untuk bangsa ini menjadi lebih baik. Di pundak kita tergantung banyak masalah yang menanti untuk diselesaikan.
Apa yang kita lakukan bukan lagi belajar di kelas, mendengarkan dosen, mengerjakan tugas. Tapi kita juga dituntut untuk terjun langsung di masyarakat, membantu masyarakat, mengatasi berbagai masalah sosial dengan pemikiran seorang mahasiswa. Pemikiran yang kritis dengan alasan yang tepat bukan sekedar asal kritik.